“JANGAN HANYA
SEBATAS SEMANGAT”
(Matius 26:31-35;
69-75)
Di awal renungan ini, ada satu
pertanyaan yang mungkin dapat kita jawab bersama: “dalam menjalani kehidupan
sehari-hari apakah salah satu hal yang kita butuhkan ketika hendak
beraktivitas?” Mungkin ada banyak jawaban yang muncul dalam pikiran kita.
Tetapi setidaknya, satu hal yang tidak boleh kita lupakan yaitu “semangat.”
Ketika kita mau memulai sesuatu dengan semangat tentu akan terus mendorong kita
melakukan aktivitas yang sudah kita rencanakan sebelumnya sehingga aktivitas
itu akan menjadi mudah untuk dilakukan.
Dalam nats di atas pun kita melihat
salah seorang murid Tuhan Yesus yang begitu semangat dan yakin akan dirinya,
yaitu: Petrus. Dengan semangatnya ia memberitahu kepada Tuhan Yesus bahwa “biarpun
mereka semua tergoncang imannya karena Engkau (Tuhan Yesus), aku (Petrus)
sekali-kali tidak.” Sungguh pernyataan yang luar biasa, bukan? Tetapi, apa yang
terjadi sesudah itu? Apa yang terjadi sesudah Tuhan Yesus ditangkap dan dibawa
menghadap imam besar Kayafas? Petrus mengikuti Tuhan Yesus dari kejauhan
(Matius 26:58). Ketika orang mulai berkata “Dia harus dihukum mati” (Matius
26:66), orang mulai meludahi muka-Nya (Matius 26:67a), orang-orang mulai
memukul Dia (Matius 26:67b). Tuhan Yesus mengalami perlakukan yang tidak baik.
Mungkin kita tidak melihat langsung. Tetapi dari penggambaran ini, kita bisa
membayangkan bagaimana perasaan Petrus yang ada disitu yang tadi memberitahu
kepada Tuhan Yesus dengan semangat bahwa ia tidak akan tergoncang imannya. Apa
yang terjadi sesudahnya? Alkitab mencatat bahwa Petrus yang begitu semangat
ternyata menyangkal Yesus sampai tiga
kali ketika dirinya merasa terdesak, tidak aman dan diselimuti kekuatiran
akan apa yang akan terjadi dengan dirinya.
Kadangkala kita sebagai orang Kristen
pun bersemangat mengakui diri kita Kristen, pengikut Kristus yang sejati tetapi
hanya jika keadaan kita baik-baik
saja, dan aman-aman saja. Ketika masa krisis dan mendesak masih adakah semangat
kita untuk mengakui bahwa kita adalah pengikut Kristus yang sejati?
Dari peristiwa ini kita diingatkan agar
jangan hanya sebatas semangat mengikuti Yesus, tetapi harus ditunjukkan dengan
bukti bahwa kita akan tetap mengikut Yesus sampai akhir hidup kita apapun
situasi dan kondisinya baik susah maupun senang. Iman kita kepada Yesus jangan
bergantung pada semangat melainkan kepada kuasa Allah dan berpegang pada
janji-janji Allah bahwa Ia tidak akan meninggalkan kita.
Dari peristiwa ini juga kita
dihiburkan. Sebab kisah tentang Petrus bukan hanya sampai pada saat ia
menyangkal Tuhan Yesus. Petrus yang pernah menyangkal Kristus tidak
ditinggalkan, Tuhan tetap mencari dan memulihkan keadaan Petrus (Yohanes 21). Petrus
tetap dengan semangat namun bukan bukan
hanya sebatas semangat. Ia juga berpegang pada janji Tuhan. Ia menjadi
pengikut Kristus dan melayani dengan setia sampai akhir hidupnya. Menurut
tradisi, ia mati martir dengan cara disalibkan terbalik dan ia tidak menyangkal
Kristus kembali seperti sebelumnya. Ia tetap taat dan setia sampai nafas terakhir.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita
mengikut Kristus hanya sebatas semangat? Biarlah dalam moment menjelang Jumat
Agung dan paskah kita belajar dari kisah Petrus yang menjadi gambaran diri
kita. Apabila kita pernah gagal seperti Petrus, mari kita kembali pada Yesus
untuk setia menjadi pengikut-Nya. Dengan semangat kita berani mengakui-Nya
sebagai Tuhan dan Juruselamat kita namun dengan berpegang pada janji Tuhan yang
menjamin kehidupan kita, dan mau berkomitmen untuk menjadi pengikut Kristus
yang taat dan setia sampai akhir hidup kita. Jangan hanya sebatas semangat.
Komentar
Posting Komentar