Kristus Teladanku 1 Petrus 2:18-25


1 Petrus 2:18-25 “KRISTUS TELADANKU”
Jika kita melihat foto yang ada dalam gambar ini,

apa yang ada dalam pikiran kita? (seorang anak meniru apa yang dilakukan oleh ayahnya [like father like son/lika dad like son]
Apa yang dilakukan oleh ayahnya akan diikuti oleh sang anak.
Seorang bernama James Baldwin berkata: “Anak-anak tidak pernah baik dalam mendengarkan orang yang lebih tua. Namun anak-anak tidak pernah gagal dalam meniru orang yang lebih tua”
Artinya apa? Anak-anak akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang yang lebih tua termasuk ayah dan ibunya. Secara tidak langsung anak mencontoh perilaku dari orang tua atau orang-orang di sekitarnya.
            Waktu usia anak masih usia PG/TK, yang mereka akan ikuti mungkin sebagian besar adalah orang tua/pengasuhnya di rumah, meskipun di sekolahnya mulai dibiasakan dengan hal-hal baru dari para guru. Saat memasuki usia SD, anak-anak akan mulai terpengaruh dengan perilaku teman-temannya. Jadi, sosok yang memengaruhinya bukan lagi sebagian besar dari orang tua tetapi mulai ada pengaruh dari teman-temannya.
            Memasuki masa SMP-SMA anak-anak akan mulai mencari “jati dirinya” agar bisa tetap berteman dengan orang lain dan agar mereka bisa mendapat pengakuan dari teman-temannya dan agar mereka bisa diterima berteman dengan mereka.
Selepas dari SMA, maka pengaruh itu akan semakin besar lagi mereka dapat, apalagi jika anak kuliah/kerja dan hidup jauh dari kedua orang tuanya. Maka mereka akan mulai membentuk karakter mereka masing-masing dan pengaruh dari orang tua yang akan mereka ingat itu hanya “BAGAIMANA sosok ayah dan ibunya”. Secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa mereka akan meneladani orang tua dan orang-orang di sekitarnya.
Dan secara tidak langsung pula dapat dikatakan bahwa setiap kita adalah hasil dari keteladanan dari orang lain dan kita akan terus MENELADANI orang-orang dalam kehidupan kita.
Saya banyak dibentuk oleh keteladanan yang baik dari orang tua saya di rumah, guru-guru saya selama masa sekolah dan yang lainnya serta dari dosen dan senior-senior yang menjadi mentor saya di kampus apalagi dalam hal kerohanian.
Dan saya percaya bahwa setiap kita pun punya sosok yang kita teladani dalam kehidupan kita baik dalam hal pemikiran, perkataan maupun tingkah laku dan perbuatan kita.
Namun, yang jadi pertanyaan bagi kita semua adalah,,,
-          apakah dalam teladan yang kita ikuti selama ini, adakah Kristus di dalamnya?
-          Sebagai orang Kristen, sudahkah KRISTUS MENJADI TELADAN KITA?

-          TELADAN KRISTUS yang seperti apakah yang akan kita ikuti?

Pada saat ini kita akan merenungkan tentang teladan dari Kristus yang harus kita ikuti dan lakukan berdasarkan 1 Petrus 2:18-25



Uraian
Petrus penulis surat 1 Petrus ini adalah murid sekaligus saksi mata dari kebesaran Kristus. Ia tentu tahu:
-          bagaimana rasanya terpanggil menjadi murid Yesus,
-          melayani bersama dengan Yesus,
-          melihat mujizat-mujizat-Nya,
-          melihat Yesus ditolak,
-          melihat dan mendengarkan Yesus bertanya jawab dengan ahli taurat dan orang farisi,
-          melihat penganiayaan yang diterima Yesus,
-          tahu tentang kematian Yesus, dikuburkan, kebangkitan Yesus
-          tahu, tentang janji Yesus sebelum kenaikan-Nya ke sorga dan Yesus berpesan dalam Matius 28:20 “bahwa Aku [Yesus] menyertai kamu [kita orang percaya] sampai kepada akhir zaman…
Dengan pengalaman ini, maka Petrus ingin menjagar dan membagikan kasih Tuhan kepada jemaat yang menerima suratnya, yaitu orang-orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia. Yang mungkin juga merupakan hasil dari pelayanan rasul Paulus atau jemaat yang didirikan oleh Paulus. Sekaligus hal ini juga mau mengajarkan kepada kita bahwa kebenaran firman Tuhan itu dapat diberitakan pada jemaat Tuhan yang berdiri dimana saja oleh setiap hamba-hamba Tuhan. Contohnya seperti sekarang ini, biasa kita mengundang hamba-hamba Tuhan tamu untuk melayani di gereja kita untuk membagikan kebenaran firman Tuhan.
Namun, tahukan kita sebenarnya siapa dan bagaimana kondisi orang-orang percaya yang menerima surat Petrus pada saat itu?
Kita akan lihat dan belajar bersama sehingga kita tidak kehilangan konteks pada waktu surat ini ditulis waktu itu sehingga kita pun tidak salah memahami serta mengartikannya pada saat ini.
Pada bagian sebelumnya . . .
Petrus menghimbau agar setiap orang percaya hidup dengan benar dan menaati pemerintahan yang ada. Petrus menasehati agar mereka memiliki cara hidup yang baik dimanapun mereka berada agar supaya melalui perbuatan baik itu, maka mulut orang-orang akan terbungkam atau terdiam dan tidak dapat mencela para pengikut Kristus. sebab jika mereka mencela para pengikut Kristus berarti mereka juga mencela dan tidak menghormati Kristus yang telah diutus oleh Allah untuk menyelamatkan kita.
Dengan tetap berpegang kepada hidup takut akan Allah dan menghormati setiap orang serta menghormati raja/pemerintahan yang ada.
Tetapi tidak berhenti sampai hanya hidup dengan baik saja. Petrus tahu bahwa sebagai pengikut Kristus akan ada banyak tantangan dan rintangan di depan maka dari itu dalam ayat selanjutnya Petrus menegaskan dan memberikan secara jelas status mereka sebagai pengikut Kristus dan juga sebagai warga Negara yang hidup di Negara orang sebagai pendatang.

Ayat 18
Disana tertulis kata hai kamu “hamba-hamba”
Kata ‘hamba-hamba’ diterjemahkan ‘servants’ (yang artinya = pelayan-pelayan) oleh alkitab King James Version, dan ‘slaves’ (yang artinya = hamba-hamba) oleh alkitab New International Version.
Kata Yunani yang dipakai adalah OIKETAI yang sebetulnya berarti ‘house servants’ (= pelayan-pelayan rumah).
Menurut William Barclay:
“Dalam kekaisaran Romawi ada 60 juta budak. Perbudakan dimulai dengan penaklukan Romawi, mula-mula para budak pada umumnya adalah para tawanan perang, ... dan Bukan hanya tugas-tugas kasar / rendah yang dilakukan oleh budak-budak. Dokter-dokter, guru-guru, musisi-musisi, aktor-aktor, sekretaris-sekretaris, pengurus-pengurus rumah adalah budak-budak. Bahkan dalam faktanya semua pekerjaan Romawi dilakukan oleh budak-budak. Sikap Romawi adalah bahwa tidak ada gunanya menjadi tuan dari dunia tetapi melakukan pekerjaannya sendiri. Biarlah budak-budak yang melakukannya dan biarlah para warga negara (Romawi) hidup dalam kemalasan yang manja”
Artinya bahwa siapa saja yang bukan bangsa Romawi dikatakan sebagai budak. Dan tidak dapat dipungkiri juga bahwa pengikut Kristus pada saat itu banyak yang berkedudukan sebagai “budak” disana tetapi mungkin juga ada yang punya kedudukan dan cukup terpandang.
Tetapi,, rasul Petrus lebih mengkhususkan bagian ini kepada mereka yang bekerja kepada rakyat dan pemerintah kekaisaran Romawi, bisa jadi bagi mereka yang menjadi pelayan-pelayan rumah.
Rasul Petrus mengingatkan kepada mereka semua agar “tunduk” kepada majikan mereka.
Tunduk disini dimaksud agar mereka yang bekerja dapat melakukan pekerjaan mereka dengan setia dan jujur, menjaga perilaku sebagaimana seharusnya orang yang berkedudukan ‘lebih rendah’ dengan penuh rasa hormat dan sepenuh hati, dan untuk tunduk dengan sabar dalam menanggung penderitaan dan ketidaknyamanan. Mereka patut tunduk kepada majikan mereka yang berhak menerima layanan mereka.
Alexander Nisbet menuliskan:
“Bisa merupakan nasib dari umat Tuhan bahwa mereka adalah  pelayan-pelayan, dan ini merupakan sebagian dari kemiripan mereka dengan Kristus dalam keadaan lahiriah-Nya dalam daging, Fil 2:7, Kristus pun dikatakan menjadi Hamba sehingga Ia begitu dimuliakan oleh Allah.
tetapi juga Pengikut Kristus diijinkan ada disana untuk menunjukkan providensia ilahi (pemeliharaan Allah kepada mereka dalam penderitaan) dan untuk melayani orang-orang kafir, bahkan orang-orang kafir yang terburuk sekalipun, sehingga Tuhan bisa membuat para pengikut-Nya sebagai alat-Nya untuk melakukan hal yang baik kepada sebagian dari mereka, 2 Raja-raja  5:2-3,”
jadi, keberadaan sebagai orang Kristen yaitu Pengikut Kristus harus tetap menjadi berkat bagi siapapun dan dimanapun serta menunjukkan bagaiaman orang Kristen selalu berada dalam perlindungan Tuhannya…
lebih lanjut rasul Petrus menuliskan agar mereka tunduk kepada tuan mereka. bukan saja kepada tuan yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. Jadi, tidak dapat dipungkiri bila ada pengikut Kristus saat itu yang mendapatkan tuan yang baik dan peramah tetapi ada juga yang bengis. Dan mungkin lebih banyak yang mendapatkan tuan yang bengis.
            Arti bengis sendiri yaitu:
Dalam KBBI bersifat keras tanpa belas kasihan kepada manusia atau binatang; suka berbuat aniaya; kejam.
Petrus mengingatkan kepada setiap mereka yang mendapatkan tuan yang baik agar mereka tetap tunduk kepada tuan mereka. jangan malah orang Kristen/pengkut Kristus yang semena-mena kepada tuannya mentang-mentang tuannya baik. Ini tentu salah. Rasul Petrus juga berpesan kepada setiap mereka yang mendapatkan tuan yang bengis sekalipun agar mereka juga belajar tunduk kepada tuan itu.
Mengapa harus tetap tunduk?
Ayat 19 menjelaskan bahwa itu adalah suatu kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.
Petrus juga memberikan sebuah perbandingan logis bahwa manakah yang lebih mulia dan dapat disebut sebagai sebuah pujian?
a.       Menderita karena berbuat salah
b.      Menderita karena berbuat baik
Coba kita pikirkan…
Kalau kita menderita karena memang kita berbuat salah, maka hal itu adalah sebuah kewajaran.
Contoh: jika kita dimarahi oleh majikan jika kita karena  salah maka itu adalah hal yang wajar dan pantas kita terima sebab mungkin karena kesalahan kita maka majikan atau tuan kita yang seharusnya mendapatkan pelayanan yang baik dari kita atau harusnya mendapat untung dari pekerjaan kita, justru menderita kerugian.
Tetapi jika kita mendapatkan hukuman atas perlakukan kita yang baik maka itu bukanlah hal yang wajar dan mungkin kita bisa membela diri serta membuktikannya, apalagi jika kita sampai menderita kerugian akan hal itu. Tetapi dikatakan agar kita tetap bersikap baik sehinga hal itu  disebut sebagai sebuah pujian untuk kita. Sebuah kehormatan untuk kita. Dan jauh lebih mulia lagi sebab itu adalah kasih karunia Allah (mendapat sesuatu yang tidak layak bagi kita, sama seperti Kristus yang juga mendapat sesuatu yang layak bagi diri-Nya yaitu mati di kayu salib). Tetapi hal ini bukan berarti bahwa orang percaya harus menderita baru bisa disebut sebagai penerima kasih karunia jika sudah menderita. Kalau demikian maka itu adalah hal yang salah. (ay. 20)

Dan, tahukah kita bahwa dibalik itu semua rasul Paulus ingin memberikan penghiburan kepada pembaca suratnya pada saat itu dan kepada kita juga pada saat ini.
Penghiburan apakah itu?
Penghiburan itu adalah penghiburan untuk membuat kita mengerti tentang PANGGILAN kita sebagai orang percaya atau sebagai orang Kristen.
Lalu, Apakah panggilan kita sebagai orang Kristen?
Salah satunya adalah PANGGILAN UNTUK MENELADANI KRISTUS.
Mengapa panggilan itu adalah untuk meneladani Kristus dan mengikuti jejaknya?
Sebab panggilan untuk meneladani KRISTUS adalah panggilan yang universal yaitu panggilan yang berlaku bagi setiap orang dan tentu setiap orang dapat belajar untuk meneladani Kristus.


Ada banyak panggilan kita sebagai orang percaya, tetapi panggilan untuk meneladani Kristus lah panggilan yang paling universal dan dapat dilakukan oleh semua orang.
-          Tidak semua orang Kristen terpanggil untuk mati martir (atau orang yang rela mati berjuang demi imannya dalam Kristus Yesus)
-          Tidak semua orang Kristen terpanggil melayani dalam bidang music
-          Tidak semua orang Kristen terpanggil dan dapat kesempatan untuk mengikuti perkuliahan dan belajar di sekolah teologi mendalami alkitab.
-          Tidak semua orang Kristen terpanggil untuk menjadi misionaris. (masuk ke pedalaman dna luar negeri)
Tetapi . . . . . . . semua orang Kristen terpanggil untuk meneladani Kristus sang guru agung dan Juruselamat kita.
Jadi apa yang dapat kita teladani dari Kristus?
Ada 2 hal yang dapat kita teladani
1.      Kristus tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dalam penderitaan-Nya (ayat 22-23)
Ia tidak berbuat dosa,
Dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.
Ketika dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki,
Ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam,
Tetapi menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil”

Orang Kristen memang seringkali mengalami ketidakadilan. Tetapi Petrus mengingatkan dalam konteks ini bahwa ketidakadilan akan diselesaikan oleh Tuhan secara eskatologis.
Apa maksudnya diselesaikan Tuhan secara eskatologis?
Secara eskatologis berarti berkaitan dengan peristiwa-peristiwa pada masa depan dalam sejarah dunia, atau nasib akhir dari umat manusia yang biasa disebut dengan istilah kiamat atau akhir zaman.
Jadi, bukan berarti bahwa pembalasan itu benar-benar tidak ada. Tetapi pembalasan tidak terjadi pada waktu itu (pada waktu mereka dalam penderitaan) tetapi akan dilakukan Tuhan pada hari penghakiman. Dan perlu kita ingat juga pembalasan juga bukan hak dari manusia melainkan Tuhan. (Ulangan 32:35-36; Ibrani 10:30; Roma 12:19)
Pembalasan Kristus terhadap ketidakadilan bukan dilakukan pada saat itu, Ketika Ia sedang dicaci maki; atau Ketika Ia sedang menderita [karena siksaan]. Tidak ada cerita dalam alkitab bahwa Yesus setelah di kayu salib kemudian dicaci maki tiba-tiba Kristus turun dan mencari orang yang mencaci makinya tersebut lalu memusnahkannya atau berkata “coba katakana sekali lagi – kalau Engkau Anak Allah lepaskanlah diri-Mu dan turunlah dari salib”
Atau bahkan ketika dalam penderitaan-Nya memikul salib, disalibkan dan mendapat perlakukan tidak baik lalu tiba-tiba Yesus mengancam mereka dengan mengatakan “tunggu kau nanti . sebentar lagi kamu aku lenyapkan”. . . tidak ada cerita demikian. oleh sebab itu dikatan bahwa Yesus tidak berdosa dan tidak ada tipu dalam diri-Nya.
Sebab apa?
Semua orang yang melakukan ketidakadilan kepada Kristus pada saat itu maupun mereka yang melakukan ketidakadilan kepada para pengikut-Nya saat ini nanti akan melihat dan merasakan pembalasan yang akan dilakukan oleh oleh Bapa pada hari penghakiman dan mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Mau menyesal tetapi sudah terlambat.
Oleh sebab itu, Petrus mengatakan bahwa Kristus menyerahkan semuanya kepada Dia yang menghakimi dengan adil. Dan darisana baru kita dapat mengetahui siapakah Tuhan kita sesungguhnya.
Oleh sebab itu kalau kita menghadapi ketidakadilan kita tidak perlu membalasnya dengan kejahatan. Sebab pembalasan adalah hak Tuhan. Dan apa bedanya kita dengan mereka yang melakukan kejahatan jika kita membalas kejahatan dengan kejahatan?


2.      Penderitaan Kristus membawa pemulihan (ayat 24-25)
Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib,
Supaya kita yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran.
Oleh bilur-bilurnya kamu telah sembuh.
Sebab kamu dahulu sesat seperti domba,
Tetapi sekarang telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu

Yesus Kristus yang adalah Allah 100% dan manusia 100% telah memikul dosa kita pada saat di kayu salib. Dan secara tubuh jasmaniah maka Kristus menanggung beban yang juga dapat dirasakan oleh manusia dan akhirnya Kristus mati. Dan dalam kematiannya ini, kalau kita ingat bahwa Kristus mati bukan karena siksaan manusia melainkan karena Ia sendiri yang menyerahkan jiwa-Nya kepada Bapa dengan berkata “ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku. Tubuh Yesus benar-benar menderita, tubuhnya benar-benar remuk tapi mereka tidak dapat merenggut jiwa-Nya.

Dan dari peristiwa ini juga kita diingatkan bahwa apabila kita menderita sebagai pengikut Kristus maka penderitaan paling “banter” atau penyiksaan paling berat adalah hanya terjadi secara fisik tetapi tidak dengan jiwa kita. Sebab pada harinya roh kita akan dibangkitkan dan kita menerima tubuh kemuliaan dari Allah. Oleh sebab itu dikatakan dalam ayat 25bahwa Dia adalah  “pemelihara jiwamu”
Matius 10:28  mengatakan ‘dunia cuma berkuasa membunuh tubuh tapi tidak bisa membunuh jiwa; yang bisa membunuh jiwa itu hanya Tuhan’

Meskipun kita dalam penderitaan fisik tetapi jiwa kita tetap terpelihara oleh Allah dan itulah yang seharusnya menjadi pengharapan kita orang percaya.
Dalam pengharapan itu maka kita juga dapat melihat bahwa melalui kematian Kristus maka kita dipulihkan. Karena pemulihan yang dilakukan oleh Kristus maka seharusnya:
-          Kita akan dimampukan untuk hidup dalam kebenaran
-          Kita dipimpin dan dituntun oleh Gembala Agung
Ketika Tuhan yesus naik ke sorga, Dia mengatakan bahwa aka nada satu Pribadi yanitu Roh Kudus yang diutus Bapa akan tinggal dalam hati orang percaya akan terus bekerja dan  menuntun kita melihat serta menghidupi kebenaran-kebenaran yang ada. Jika kita mulai melenceng maka Roh Kudus akan mengingatkan kita.
Inilah yang membuat kita melihat bahwa kehdiupan orang yang sudah dipulihkan itu memiliki pimpinan dan tuntunan dari Kristus yang kita sebut juga sebagai Gembala yang Agung itu yang mengarahkan kita  kepada kehidupan yang benar dan berkenan kepada Allah.
Itulah teladan yang Kristus yang harus kita miliki. Suatu berikan kepada kita.
Kita tidak harus mati seperti Kristus mati di kayu salib. Kita tidak harus menderita pukulan sampai remuk.
Mungkin penderitaan yang kita alami berbeda-beda.
-          Mungkin penderitaan itu adalah karena hubungan dalam rumah tangga, keluarga, saudara,
-          Mungkin penderitaan itu dalam lingkungan kerja kita
-          Mungkin penderitaan itu dalam pergaulan kita. Bagi para remaja mungkin di sekolah merasa tidak nyaman dengan ejekan dan hinaan terhadap orang Kristen.
-          Mungkin penderitaan kita itu dalam pelayanan
-          Mungkin penderitaan kita adalah pergumulan dalam usaha pekerjaan yang kita buka
-          Mungkin penderitaan kita adalah pergumulan dengan masa depan anak-anak bagi yang berkeluarga
-          Mungkin penderitaan kita karena bergumul dengan sakit penyakit
-          Mungkin penderitaan kita karena bergumul dengan masalah ekonomi
-          Mungkin penderitaan kita karena kita adalah orang Kristen di tengah-tengah keluarga yang belum percaya.
Tetapi, ijinkan saya bertanya.
Apakah kita sudah meneladani Kristus dalam menghadapi penderitaan  itu?
Ingatlah
1.      Kristus tidak membalas kejahatan dengan kejahatan
Meskipun mendapatkan perlakuan yang tidak adil. demikian juga dengan kita. Janganlah kita melakukan suatu tindakan yang tidak pantas ketika menghadapi pergumulan. Mungkin saat itulah Kristus mau kita menunjukkan jati diri kita sebagai orang Kristen untuk mengikuti ajaran Kristus dan jadi berkat bagi sekitar kita.

2.      Ingatlah bahwa Penderitaan Kristus yang membawa pemulihan bagi kita.
Mungkin melalui penderitaan dan pergumulan itu Kristus mau menguatkan iman kita. Memampukan kita menghadapi kehidupan yang keras ini
Dan melalui penderitaan itu kita semakin melihat tuntunan dan pimpinan Tuhan bagi kita.
Mari, mulai hari ini kita mau meneladani Kristus dalam Kehidupan kita dan kita dengan berani berkata bahwa HANYA KRISTUS TELADANKU.

Amin !!!

Komentar