Menjadi Teladan1 Timotius 4:12


1 Timotius 4:12
Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Siapakah diantara kita yang suka dengan nasehat?
Banyak yang tidak suka. Mengapa?
Kita suka mengatakan “itu kan urusan saya sendiri. Jangan ikut campur” . . . .
Apa yang saya buat yah terserah saya, hak saya.
Sebenarnya hal ini sedang menunjukkan kepada kita bahwa kita sedang dijajah oleh zaman kebebasan dan zaman dimana HAM begitu dijunjung tinggi. Dengan alasan bahwa itu semua adalah hak saya.
Tantangan gereja dan anak muda Kristen saat ini bukanlah lagi soal begitu banyaknya orang dirasuki roh jahat, bukan lagi soal tawuran antar geng (meskipun ini masih saja ada)...
 tapi tantangannya adalah individualisme... bagaimana menaklukkan “aku (diri sendiri)”.
Contohnya apa?
Saat kita makan bersama, dimanakah hp kita?
Kita sudah tidak pusing lagi dengan siapa-siapa kalau sudah asik sendiri...
Dan saya berpikir bahwa sekarang orang tidak takut sendiri, tidak takut dan tidak peduli jika tidak ada teman ngobrolnya.... tapi takut kalau dia JOMBLO... itu aneh, , , , , ,

Jaman sekarang orang begitu sulit dinnasehati...
Dan biarlah ini bukan menjadi nasehat bagi kita. Tapi biarlah jadi penegur, pendidikan, sebagai pengalaman, sebagai penuntun, petuah, dll, yang lebih keras daripada nasehat...



Kalau dalam pembacaan kita, ini adalah nasehat Paulus kepada Timotius dalam menghadapi orang-orang percaya yang dipercayakan untuk dilayani dan dia mungkin merasa tidak mampu tetapi dikatakan bahwa selain pengetahuan tentang ajaran Kristus yang benar adalah Perkataan dan perbuatannya.

Kita akan menghadapi orang-orang yang seumuran kita, lebih muda dari kita, lebih pengalaman, dll. Dan itu tidak bisa kita pungkiri.
Kita tidak hanya berhadapan dengan orang-orang seusia kita saja. Dan ketika berhadapa dengan orang-orang yang seperti ini, bagaimanakah kita harus bersikap?
Disana diajarkan supaya  menjadi teladan:
1.       Perkataan . . . . mengapa perkataan kita?
Itu adalah identitas kita sebagai manusia. Kita berkomunikasi lewat perkataan kita. Entah itu bicara langsung maupun diketik di HP.
Setiap kali berkata kepada orang, katakanlah yang baik.
Tips untuk berkata sebagai anak muda, ingatlah 3 kata ajaib:
TOLONG, MAAF, TERIMA KASIH
2.       Tingkah laku
Apa yang kita lakukan, apa yang kita perbuat itu akan dilihat oleh orang dan itu menjadi alat bagi orang lain untuk mengenal kita. Kita akan dipromosikan jika baik dan akan disingkirkan jika tidak. Tugas yang diberikan kepada kita harus kita kerjakan sebaik mungkin..
3.      Kasih
Bagaimana kita melakukan segala sesuatu seperti membantu orang bukan supaya kita mendapatkan balasan, tapi kita lakukan tanpa pamrih. Bicara soal kasih adalah bicara bagaimana kita harus berkorban untuk orang lain seperti Yesus.
4.      Kesetiaan
Kesetiaan dalam hal bagaimana kita pengikut Kristus melakukan segala sesuatunya sampai tuntas, jangan kerja sedikit-sedikit atau tanggung
5.      Kesucian
Kesucian yaitu bagaimana cara kita hidup dihadapan Tuhan. Bagaimana menjaga diri kita. Banyak hal bisa dibahas tentang kesucian.
Banyak perempuan dan laki-laki yang tidak menjaga kesucian diri mereka. Menjual diri mereka, ada yang dibayar, ada yang gratis....
Timotius dinasehati oleh Paulus. Dan apa maksud dari setiap perkataan itu harus ditangkap/dimengerti dengan jelas sehingga maksud dan tujuannya tercapai.

ILUSTRASI
Dalam sebuah keluarga, ada seorang ayah dan 2 anaknya laki-laki.
Sang ayah sakit parah dan dia merasa bahwa waktunya sudah dekat. Maka ia memanggil kedua anaknya dan membagikan warisannya serta pesan-pesan agar supaya bagaimana mereka tetap bisa bertahan hidup sampai lama. Karena mereka ini adalah keluarga yang cukup kaya.
Ayahnya berpesan 3 hal yang tidak biasa kepada mereka dan sepertinya aneh.
1.       Dalam sebulan makanlah 10.000 ekor hewan
2.       Jangan kena matahari
3.      Jangan menagih utang
Maka mereka berdua menjalankan nasehat itu.
Anak yang termuda, menjalankan perintah itu.
Setiap bulan ia membeli daging begitu banyak dan sering berpesta pora. Kalau ada lebih dari makanan itu, ia bagi-bagikan kepada teman-temannya. Mulai dari sapi, kambing, ayam dll. Begitu banyak hewan.
Dan itu membuatnya menjadi orang yang gemuk dan cukup boros hidupnya.
Kemudian yang kedua, ia sering nongkrong di club dan pagi-pagi baru pulang. Dan kalau ia tidak ke club maka pada malam hari akan pergi ke mall.
Lalu yang ketiga, begitu banyak orang yang berhutang padanya dan tidak pernah ditagih. Alhasil...setelah 3 tahun, hartanya mulai habis dan kehidupannya menjadi kacau.

Bagaimana dengan anak yang kedua?
1.       Dalam sebulan ia makan ikan, ayam dan daging secukupnya. Untuk mengirit, ia makan dengan lauk ikan teri sehingga jumlah 10.000 hewan itu terpenuhi
2.       Pada waktu pagi-pagi sebelum matahari terbenam ia pergi ke kantor dan bekerja. Ia pulang pada waktu matahari terbenam sehingga ia tidak kena matahari
3.      Ia tidak memberikan orang berhutang padanya ketika itu tidak benar-benar penting dan mendesak. Alhasil, ia tidak perlu menagih hutang kepada siapapun,..
Dan setelah 3 tahun, kehidupannya menjadi sukses dan berlimpah berkat,,,

Apa yang mau kita pelajari?
Keduanya menerima pesan yang sama
Tetapi memberikan respon yang berbeda...
Sehingga hasilnya pun berbeda.

Setiap kita hadapi kehidupan yang sama dalam arti bahwa kita akan hadapi masalah, kita bersenang-senang, kita bekerja, kita berusaha. Tetapi bagaimana kita meresponi itu semua?
Apakah kita meresponi dengan andalkan kekuatan sendiri atau kita meminta Tuhan  yang menuntun hidup kita.
Sebab kedua hal ini menunjukkan hasil yang berbeda.
Firman Tuhan berkata, jadilah teladan dalam hal
Perkataan
Perbuatan
Kasih
Kesetiaan
Kesucian

Ini bukan sekedar nasehat, tapi ini adalah penuntun dan pemegang jalan hidup kita. Melalui firman Tuhan kita diarahkan untuk bagaimana bersikap dalam kehidupan sehari-hari.

Ingatlah dimanapunn kita berada, kita adalah murid yang harus menjadi teladan. Sebab itulah yang menunjukkan bahwa kita benar-benar beriman kepada Kristus Yesus, Tuhan kita. Kita tidak asal-asalan hidup.



Memang Tuhan rancangkan kehidupan kita dengan masa depan yang cerah, tetapi kalau kita tidak merespon dengan benar, kalau kita mengabaikan firman Tuhan itu, berarti kita memakai kehendak bebas kita untuk menghancurkan kita sendiri.

Timotius sampai akhir hidupnya, ia dipakai sebagai alat Tuhan untuk menjadi teladan dan selalu berpegang pada firman Tuhan

Menurut tradisi, Timotius meninggal sekitar tahun 97M pada usia 80 tahun ketika itu ia mencoba untuk menghalangi prosesi penyembahan berhala dari orang-orang disana dengan menyampaikan khotbah lalu masa marah dan memukulinya, menyeretnya dan melemparinya dengan batu sampai mati.
Imannya tidak goyah karena keadaan tapi ia menggoncangkan keadaan orang-orang yang ada disana pada waktu itu karena mereka tahu bahwa apa yang dilakuukan Timotius adalah sesuatu yang benar.

Komentar