Book review / ringkasan buku Katalisator Gereja untuk berubah dan berbuah bab 1

Book Review / Ringkasan buku KATALISATOR GEREJA UNTUK BERUBAH DAN BERBUAH - Karya Budianto Lim


Realitas pandemi dan tantangan perubahan ibadah

Buku ini berisi tentang bagaimana memikirkan ulang ibadah dalam gereja Kristen pasca pandemi yang memang mengalami begitu banyak perubahan dan penyesuaian. Gereja dituntun untuk beubah agar jemaat tetap dapat beribadah.

Setiap kita dituntut untuk menjadi katalisator bagi gereja. Apa itu katalisator? Menurut KBBI, Katalisator adalah seseorang atau sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan dan menimbulkan kejadian baru atau mempercepat suatu peristiwa.

Pada bagian 1 dibahas tentang beribadah terpisah berubah menjadi beribadah terpadu sebagai suatu keluarga Allah.

Tahun 1960an gereja diarahkan memperhatikan anak-anak, remaja, pemuda sehingga mulai bermunculan ibadah sesuai dengan golongan usia. Di Indonesia secara khusus menganggap bahwa pertumbuhan dapat terjadi jika ibadah dirancang khusus berdasarkan segmentasi usia khususnya remaja hingga pemuda pemudi.

Homogenitas menjadi norma untuk mewujudkan kehidupan bergereja. Dengan homogenitas ini dharapkan gereja dapat bertumbuh dan menurut ilmu psikologi injil menjadi lebih mudah diterima berdasarkan homogenitas tersebut.

Pada dasarnya manusia dan kebutuhan hakikinya tidak berubah:

- kerinduan untuk dimiliki dan memiliki

- dicintai dan mencintai

- dihormati dna dihargai, dianggap berarti

- penghayatan akan arti hidup

- eksistensi

- mnerima diri dan memiliki gambaran yang sehat tentang diri sendiri

- kebutuhan memiliki relasi yang harmoni dan mengalami rekonsiliasi

- keutuhan diampuni dan mengampuni

- menghadapi perjalanan mendekati kematian.

Namun, visi gereja dalam memperhatikan kaum muda juga perlu diperhatikan khususnya dalam aspek perwujudan atau implementasi visi tersebut. Yang terjadi di gereja adalah seperti demikian: anak muda menjadi bos gereja. Mereka beranggapa generasi senior tidak lagi diperlukan karena sudah ada internet. Generasi muda juga memanfaatkan gerenarasi dewasa sebagai penyedia dana bagi kegiatan bergereja. Sedangkan orang dewasa atau generasi senior memanfaatkan tenaga anak muda dalam kegiatan gereja, generasi dewasa juga adalah orang yang memiliki kepekaan dengan apa yang terjadi di gereja dan mereka perlu didorong untuk melakukan sesuatu dalam gereja.

Ini menjadi gap antara generasi. Oleh sebab itu, semua perlu diperlengkapi bukan hanya untuk pelayanan tetapi secara rohani. Dimulai dengan perjumpaan dengan Allah, membangun relasi dengan melibatkan berbagai golongan untuk melayani. 

Dalam bagian pertama buku ini menekankan bahwa tembok pemisah antara Allah dan manusia yaitu dosa sudah diruntuhkan. Oleh sebab itu gereja perlu menjadi sarana yang Allah pakai untuk membangun setiap orang di dalamnya. Realitas pandemi yang membuat orang beribadah dari rumah masing-masing dan beribadah bersama keluarga sebenarnya dapat menjadi satu gambaran bahwa  suasana kekeluargaan itu dibutuhkan dalam gereja. Namun itu semua harus dimulai dengan perjumpaan dengan Allah.

Komentar